A .Mengembara ke alam jin
Jin memang wujud. Orang Islam wajib percaya
akan wujudnya makhluk jin karena ia disebut di dalam Al Quran. Firman Allah:
Tuhan ada berfirman bahwa alam yang diciptaNya
ada dua bentuk. Ada alam ghaib dan ada alam nyata atau alam syahadah.
Alam nyata ialah alam yang mata lahir dapat nampak. Alam ghaib, mata lahir
tidak dapat nampak tetapi dapat dirasakan oleh hat

Merasakan wujudnya alam ghaib dengan hati ada
dua peringkat. Pertama, terasa akan adanya alam ghaib itu. Yaitu yakin dan
percaya tentang alam ghaib semata-mata berdasarkan rasa saja. Tidaklah sampai
dapat melihat seperti mata lahir . Peringkat kedua ialah hati dapat melihat
seperti mana mata lahir melihat. Bukan sebatas rasa saja tetapi mata bathin
dapat melihat seperti mana mata lahir melihat. Yakni betul-betul Nampak .
Bila dikatakan alam ghaib, ia tidak termasuk
Tuhan. Tuhan juga ghaib tetapi Tuhan bukan alam. Tuhan itu tersendiri. Maha
Suci Tuhan dari menyerupai alam. Alam adalah apa saja selain Tuhan. Alam adalah
ciptaan Tuhan dan dinamakan makhluk. Tuhan itu Pencipta atau Khaliq. Ghaibnya
Tuhan tidak sama dengan ghaibnya alam.
Alam ghaib ini ada beberapa kategori. Yang
tertinggi ialah alam malaikat. Kedua alam jin dan ketiga alam ruh muqaddasah.
Malaikat diceritakan dalam Quran dan Hadis. Malaikat lebih dahulu diciptakan
dari jin. Ia dijadikan dari cahaya manakala jin dicipta dari api. Oleh itu
malaikat lebih ringan ciptaannya dari jin karena cahaya lebih ringan dari api.
Sebab itu juga bilangan malaikat lebih ramai dari jin. Nisbahnya pada setiap
sepuluh malaikat satu jin. Juga disebabkan malaikat dicipta dari cahaya,
perjalanannya lebih cepat dari jin.

Jin pula lebih dahulu dicipta dari manusia.
Kalau jin dijadikan daripada api, manusia dijadikan daripada tanah. Sebab itu
manusia berbentuk jisim yang pejal, lebih lambat pergerakannya. Sebab itu juga
jin lebih ramai bilangannya daripada manusia. Nisbahnya setiap sepuluh jin satu
manusia. Malaikat lebih ramai dari jin dan jin pula lebih ramai dari manusia
dengan nisbah 10:1 .
Ruh muqaddasah
pula sebenarnya adalah manusia. Muqaddasah itu maksudnya suci. Roh muqaddasah
ialah ruh yang suci. Ruh muqaddasah atau ruh yang suci ini peranannya lebih
kuat dari peranan jasad. Ruh muqaddasah ini dia mutassarif atau aktif, lebih
aktif dari fisiknya.
Ruh muqaddasah ini pula, ada ruh orang yang
masih hidup dan ada ruh orang yang sudah mati. Sebab itu, tidak heran orang
yang kasyaf kadang-kadang dapat melihat orang yang masih hidup di suatu tempat
sedangkan fisiknya yang sesungguhnya berada di tempat lain. Ada juga orang
kasyaf yang melihat ruh muqaddasah orang yang sudah mati. Oleh karena umumnya
ruh muqaddasah tidak dapat dilihat oleh mata kasar, maka ia dikatakan ghaib
juga.
Jadi , ruh muqaddasah ini, walaupun fisik
hidup atau mati, ruhnya sangat berperanan. Namun , ruh muqaddasah orang yang
sudah mati lebih berperanan dari ruh muqaddasah orang yang masih hidup. Ini
karena orang yang masih hidup masih terikat dengan jasad lahir. Kalaupun ruhnya
dapat keluar secara halus, secara mata tidak dapat lihat, dia tetap masih
terhubung dengan jasad lahirnya. Ini tidak berlaku kepada ruh orang yang sudah
mati. Itu sebab ruh muqaddasah orang yang sudah mati lebih laju dan lebih aktif
dari ruh muqaddasah orang yang masih hidup.. Contohnya, kalau ada dua orang
wali, yang kedua-duanya sudah menjadi ruh muqaddasah, kalau seorang masih hidup
dan seorang lagi sudah mati, ruh wali yang sudah mati itu akan lebih
berperanan, lebih aktif dan lebih laju bekerja dari ruh wali yang masih hidup.
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullahu berkata: “Bisa
jadi ada sebagian orang mengira bahwa para jin itu tidak menghadiri
majelis-majelis ilmu. Ini adalah sangkaan yang keliru. Padahal tidak ada yang
dapat mencegah mereka untuk menghadirinya, kecuali di antaranya ada yang
mengganggu dan ada setan-setan.
Maka kita katakan:
Maka kita katakan:
وَقُلْ رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ. وَأَعُوْذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُوْنِ
“Ya Rabbku, aku berlindung kepada Engkau dari
bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Rabbku, dari
kedatangan mereka kepadaku.” (Al-Mu`minun: 97-98) [lihat Nashihatii li Ahlis
Sunnah Minal Jin]
Berbalik kepada kisah jin, dia ada dua
peringkat. Ada jin Islam dan ada jin kafir. Jin ini pula macam manusia juga.
Dia ada bermacam-macam jenis, bangsa dan etnik. Tabiat bangsa dan etnik jin
inipun tidak sama di antara satu dengan lain.
Seperti juga manusia yang banyak bangsa dan
etnik, tabiat dan ragam asli antara etnik tidak sama. Bangsa Cina dan Melayu
ada watak-wataknya yang tersendiri. Orang Putih (Barat) ada wataknya yang
tersendiri pula. Bahkan etnik dalam satu rumpun bangsa pun wataknya tidak sama.
Orang Banjar dan orang Jawa, wataknya berbeza. Malahan orang Melayu yang
berlainan kawasan pun berbeda wataknya. Orang Melayu Johor dan Melayu Kelantan
lain. Mereka ini sedikit-sedikit ada perbedaan watak. Begitu juga jin. Ada yang
kasar dan ada yang lembut sedikit. Ada yang garang dan ada yang sederhana.
Jin itu watak asalnya jahat. Betapalah jenis
yang kasar, dia lagi jahat. Sebab itu dikatakan, sebaik-baik jin adalah
sejahat-jahat manusia. Kalau kita pilih seorang manusia yang paling jahat,
kalau dia jin, dia adalah yang paling baik.
Namun demikian, jahatnya jin itu ada juga
batasnya. Tidak ada jin yang sebegitu jahat sampai mengaku dirinya Tuhan
seperti Firaun dan Namrud. Tidak ada pula jin yang sebegitu baik sampai
mengatasi baiknya Rasulullah dan para Nabi. Para Nabi dan Rasul tidak diangkat
dari kalangan jin. Umumnya jin lebih jahat dari manusia tetapi tidak ada yang
ekstrem jahatnya seperti Firaun dan Namrud dan tidak ada yang ekstrem baiknya
seperti Rasulullah SAW. Hanya manusia yang ada baiknya secara ekstrem dan jahat
secara ekstrem.

Al-Qur`an telah mengabarkan kepada kita bahwa sekelompok
kaum jin mendengarkan Al-Qur`an, sebagaimana tertera dalam surat Al-Ahqaf ayat
29-32. Kemudian Allah menyuruh Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar
memberitahukan yang demikian itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ أُوْحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا
“Katakanlah (hai Muhammad): ‘Telah diwahyukan kepadaku
bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan Al-Qur`an, lalu mereka berkata:
‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur`an yang menakjubkan’,” dan
seterusnya. (Lihat Al-Qur`an surat Al-Jin: 1)
Jin ini melihat Iblis dan bergaul
bersama-samanya di alam ghaib. Jin Islam bergaul dengan jin kafir. Mereka makan
bersama, bekerja bersama, berniaga bersama, ada yang menikah antara satu sama
lain, sama-sama duduk dalam satu kantor, sama-sama jadi kerani (clerk) dan
sebaginya. Sebab itu jin Islam lebih banyak dirusakkan oleh jin-jin kafir.
Sebab mereka bergaul bersama dan mereka sama jenis. Mereka mudah terpengaruh.
Macam kita manusia juga, kalau bergaul dengan
bangsa jahat seperti orang Barat dan Yahudi, habislah kita jadi Barat dan
Yahudi. Semuanya dapat bertukar jadi Barat dan Yahudi. Yang tidak dapat
bertukar hanyalah warna kulit dan bentuk hidung. Ini musti buat operasi
pelastik.
Jin kurang berhasil dalam usaha merosakkan
iman manusia berbanding iman sesama jin. Ini karena manusia dan jin berlainan
jenis, dan manusia tidak dapat nampak dan tidak dapat bergaul dengan mereka.
Itupun banyak manusia yang kafir, banyak yang zalim dan yang fasik. Betapalah
kalau jin dan manusia sama-sama dapat bergaul.
Bila jin menjadi kafir, dia dipanggil syaitan.
Syaitan itu maksudnya merasuk. Kerja jin kafir atau syaitan ialah merasuk dan
menyesatkan orang. Jin Islam tidak dapat dikatakan syaitan.

Kehidupan jin betul-betul macam manusia. Ada
kerajaannya, ada masyarakat, ada kantornya, ada mahkamahnya, ada nikah kahwin.
Tempat tinggal jin ajaib dan aneh. Ada yang tinggal di gunung-gunung,
hutan-hutan, laut, kawasan sungai dan hulu-hulu sungai. Ada juga jenis jin yang
bergaul dengan manusia.
Jin yang tinggal di suatu negara, biasanya
ikut bahasa manusia setempat. Kalau di Tanah Arab, jin berbahasa Arab, kalau di
Tanah Melayu, jin berbahasa Melayu. Dia tidak tahu bahasa Arab. Kalau jin yang
duduk di Negara Cina maka bahasanya bahasa Cinalah. Mereka pun belajar dan
berguru dengan manusia.
Rupa asal jin sangat hodoh (jelek) dan buruk.
Ia menakutkan. Kalau manusia terlihat jin ini hidupnya jadi huru hara dan
ketakutan. Manusia tidak akan aman. Dengan rahmat Tuhan, alam jin dihijab
(ditutup) dari pandangan manusia. Tetapi alam manusia tidak dihijab dari
pandangan jin. Sehodoh-hodoh manusia adalah secantik-cantik jin.
Walaupun rupa asal jin itu jelek tapi dia
dapat menyerupai berbagai rupa. Dia dapat merupa benda seperti kain, tas,
batang kayu, binatang dan juga manusia, tetapi paling banyak dia menyerupai
binatang. Ini termasuklah ular, kala jengking, lipan dan jenis-jenis binatang
lain yang berbisa. Kalau dia menyerupai binatang seperti ini, rupanya lebih
aneh dan lebih hebat dari yang biasa. Kalau dia dibunuh ketika dia sedang
menyerupai binatang , dia akan mati.
Para ulama berselisih pendapat tentang masalah ini,
apakah dari kalangan jin ada rasul, ataukah rasul itu hanya dari kalangan
manusia? Sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَامَعْشَرَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّوْنَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي وَيُنْذِرُوْنَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا شَهِدْنَا عَلَى أَنْفُسِنَا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِيْنَ
“Wahai golongan jin dan manusia, apakah belum datang
kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri yang menyampaikan kepadamu
ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari
ini?” Mereka berkata: ‘Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri’. Kehidupan
dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri
bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (Al-An’am: 130)
Sebab itu Tuhan ajar kita, kalau jumpa binatang
berbisa di tengah jalan atau di dalam rumah, musti berhati-hati. Jangan
langsung bunuh walaupun dalam Islam hukumnya sunat. Usir dua tiga kali dahulu.
Kalau dia tidak lari baru dibunuh. Takut-takut dia adalah jin yang sedang
berubah bentuk. Kalau kita terus bunuh dan dia sebenarnya jin yang sedang
merupa, mungkin keluarganya akan marah dan akan bertindak terhadap kita. Banyak
orang yang dirasuk dan diganggu oleh jin disebabkan mereka ada buat silap
dengan jin. Kalau setelah dihalau dua tiga kali tetap juga tidak pergi maka
jelas itu bukan jin. Dapat kita bunuh.
Ada cerita dalam kitab, seorang soleh telah
membunuh seekor ular. Maka pada malamnya, dia ditangkap dan dibawa oleh jin ke
negeri jin. Di negeri jin itu berjalan hukum Islam. Hakim jin itu pun Islam.
Maka orang soleh dan keluarga jin yang dibunuh oleh orang soleh tadi dibawa ke
mahkamah. Bila perbicaraan bermula maka menangislah keluarga jin sambil berkata
kenapa ahli keluarga mereka dibunuh. Bila hakim jin bertanya kepada orang soleh
tersebut mengapa dia bunuh ular itu, dia menjawab karena dalam ajaran Islam,
sunat hukumnya saya membunuh ular dan binatang-binatang yang berbisa. Saya buat
atas arahan Tuhan dan saya dapat pahala. Yang salah adalah orang Tuan. Kenapa
dia merupa ular. Salah dialah. Saya musti bunuh ular karena itu sunat hukumnya.
Hakim jin menghukum bahwa yang salah dalam kes
(kasus) ini bukan manusia tetapi pihak jin. Dia batalkan tuduhan. Hakim arahkan
polisi jin supaya mengembalikan orang soleh itu kembali ke alam manusia. Kalau
dia bukan orang soleh dan tidak dapat menjawab sudah tentu dia kena hukum.
Orang soleh itulah yang menulis kisah ini dalam kitab. Hujah ini hujah yang
kuat.
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullahu mengatakan:
“Para ulama telah berselisih pendapat tentang perkara ini sebagaimana dalam
kitab Hayatul Hayawan karya Ad-Dimyari. Namun menurutku, hal itu diperbolehkan,
yakni laki-laki yang muslim menikahi jin wanita yang muslimah. Adapun firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia
menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan
merasa tenteram kepada-nya…” (Ar-Rum: 21),
Umur jin sangat lama berbanding umur manusia
yang lebih kurang 63 tahun. Jin dapat hidup sampai 1500 tahun hingga 2000
tahun. Ada jin yang hidup di zaman Rasulullah SAW yang masih hidup pada hari
ini.
Makanan jin adalah wap (uap) dari tulang dan
tulang sum-sum binatang. Itu sebab dalam syariat Islam makruh kita memakan
tulang dan tulang som-som. Ada lagi cerita tentang jin dalam kitab. Sesetengah
orang soleh dapat menundukkan jin, mengguna dan memperalatkan mereka. Kita
tahu, dalam sejarah, ada sahabat yang hilang unta di padang pasir. Di padang
pasir banyak rijalul ghaib. Mereka berkata; Ya Rijalul ghaib, kembalikan untaku
yang hilang. Maka unta itu dikembalikan. Ini tawassul namanya.
Pernah Rasulullah SAW berjalan-jalan dengan
beberapa orang sahabat dan singgah di suatu kampung jin. Rasulullah beritahu
para sahabat supaya tunggu dan jangan ikut, sebab dia mahu masuk ke kampung jin
untuk mengajar . Cerita ini masyhur dalam sejarah. Para sahabat hanya melihat
asap. Sebab adakalanya jin menyerupai asap karena dia berasal dari api. Tetapi
Rasulullah melihat betul-betul jin itu dan mengajar mereka pula.
Ada cerita tentang Nabi Sulaiman di dalam
Quran yang hendak membawa istana Balqis dari Yaman ke Palestin yang jauhnya
beribu-ribu mil. Antara mukjizat Nabi Sulaiman diperintahnya jin untuk membawa
istana tersebut. Jin pun bari tahu dia akan bawa istana itu kepada Nabi
Sulaiman selama mana Nabi Sulaiman berubah tempat. Tidakkah itu hebat.
Namun ada lagi yang lebih hebat. Seorang wali
Allah yang bernama Asif Barhaya yang turut berada dalam majlis itu berkata saya
dapat pindahkan istana Balqis ke hadapan tuan dalam sekelip mata. Maka
tertantang jin. Dia hendak ambil hati Nabi Sulaiman dan hendak tunjuk bahwa dia
gagah. Tetapi ada manusia bertaraf wali yang menantang dia.
Rupanya di sini kalau ruh muqaddasah bekerja,
jin pun dapat kalah. Rasulullah dapat tundukkan jin. Para wali juga dengan
karomah mereka dapat menundukkan jin dengan kekuatan diri mereka sendiri.
Tetapi kalau ada murid yang dapat nampak jin atau dapat gunakan jin, dan
merasakan itu adalah karena berkat gurunya, maka dia akan selamat. Yang tidak
selamat biasanya orang yang kasyaf, nampak jin dan dapat guna jin tapi tidak
ada guru atau ada guru tetapi hatinya telah berubah. Dia rasa bukan berkat gurunya
lagi tetapi dia rasa dirinya sudah jadi wali, sudah ada karomah sendiri. Itu
yang rosak. Orang yang dapat arahkan jin dan nampak jin dengan berkat gurunya,
kalau dia berhadapan dengan jin yang garang sangat atau degil sangat, maka
biasanya ruh muqaddasah gurunya turut hadir atau dia jual nama gurunya.
Begitulah rahsia jin. Jin ada disebut dalam
Quran dan dalam hadis. Siapa menolak kewujudan jin ertinya dia menolak Quran
dan Hadis. Jin macam malaikat juga. Quran kata ada, adalah. Tetapi aneh,
tentang malaikat banyak orang terima tetapi tentang jin banyak orang tolak.
Yang dikatakan orang Bunian, Kuntilanak, Pelesit, Tuyul, Polong, Langsui, Hantu
Raya dan berbagai-bagai lagi itu asalnya ialah jin. Oleh karena sukunya dan
perangainya tidak sama maka orang bedakan dengan nama-nama yang berlainan.
Adapun orang yang berhubung dengan jin atas
dasar mukjizat dan karomah, maka dia kuat. Jin pun takut dan hormat pada dia.
Orang yang dapat berhubung dengan jin atas dasar berkat tuan guru, dia tidak
dapat sekali-kali terputus dengan gurunya. Orang yang berusaha untuk berhubung
dengan jin, itu dinamakan amalan atau ilmu khadam. Bahaya ilmu dan amalan
khadam ini, dia terpaksa tunduk dengan jin. Jin akan bagi syarat buat begitu
dan buat begini. Kadang-kadang arahan jin itu bertentangan dengan syariat. Ini
yang rusak.
B .Alam Jin Menurut Al Qur’an dan As Sunnah
Ust. Abdul Hakim di bukunya yang berjudul Alam Jin
Menurut Al Qur’an dan As Sunnah tersebut menjelaskan sepuluh hal tentang alam
jin menurut Al Qur’an dan Sunnah. 

1.) Jin dikenakan taklif (kewajiban) seperti halnya
manusia. Dalilnya ayat Al Qur’an (yang artinya) : “Dan Aku tidak menciptakan
jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah-Ku (Adz Dzaariyaat : 56)
menyembah-Ku (Adz Dzaariyaat : 56)
2.) Jin ada yang mukmin dan ada juga yang kafir. Dalilny
ayat Al Qur’an (yang artinya) :
“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang orang yang shalih dan diantara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda beda.” (Al Jin : 11)
“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang orang yang shalih dan diantara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda beda.” (Al Jin : 11)
Berkata Ust. Abdul Hakim :
“Ada yang mukmin pengikut tariqah ahlus sunnah wal jama’ah menurut pemahaman salafush shalih, ada yang mukmin pengikut mu’tazilah dan ada yang mukmin pengikut ahlul bid’ah lainnya. (hal 19)
“Ada yang mukmin pengikut tariqah ahlus sunnah wal jama’ah menurut pemahaman salafush shalih, ada yang mukmin pengikut mu’tazilah dan ada yang mukmin pengikut ahlul bid’ah lainnya. (hal 19)
3.) Jin itu diciptakan lebih dahulu daripada manusia.
Dalilnya Al Qur’an (yang artinya) :
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. (Al Hijr : 26-27)
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. (Al Hijr : 26-27)
4.) Jin adalah satu bangsa yang besar dan terbagi bagi,
sehingga Iblis termasuk salah satu bangsa jin. Dalilnya Al Qur’an (yang
artinya) :
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan
keturunan keturunannya sebagai pemimpin selain daripada Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang orang yang zalim.” (Al Kahfi : 50)
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan
keturunan keturunannya sebagai pemimpin selain daripada Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang orang yang zalim.” (Al Kahfi : 50)
5.)
Manusia lebih mulia daripada jin. Dalilnya adalah Al Qur’an (yang artinya) : “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang orang yang kafir.” (Al Baqarah : 34)
Manusia lebih mulia daripada jin. Dalilnya adalah Al Qur’an (yang artinya) : “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang orang yang kafir.” (Al Baqarah : 34)
Berkata Ust. Abdul Hakim,
“Oleh karena itu apabila ada manusia yang memohon pertolongan kepada jin, maka ia membuat jin semakin sombong, takabur, dan besar kepala.” (hal. 24)
“Oleh karena itu apabila ada manusia yang memohon pertolongan kepada jin, maka ia membuat jin semakin sombong, takabur, dan besar kepala.” (hal. 24)
6.) Jin, termasuk Iblis beserta kaumnya tidak bisa
dilihat oleh mata kepala kita, manusia tidak bisa melihat jin (dalam rupa
aslinya). Dalilnya Al Qur’an (yang artinya) :
“Hai anak Adam, janganlah sekali kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan setan itu pemimpin pemimpin bagi orang orang yang tidak beriman.” (Al A’raaf : 27)
“Hai anak Adam, janganlah sekali kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan setan itu pemimpin pemimpin bagi orang orang yang tidak beriman.” (Al A’raaf : 27)
7.) Manusia itu dapat dirasuki oleh jin, dengan kata lain
“kesurupan”. Dalilnya adalah Al Qur’an Surat Al Baqarah : 275 (yang artinya) :
“Orang orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti
berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (Al
Baqarah : 275)
8.) Bahwa jin atau setan itu ada yang laki dan ada yang
perempuan dan mereka sama dengan kita, kawin dan bercampur antara laki laki dan
perempuan. Dalilnya Al Qur’an (yang artinya) :
“Dan bahwasannya ada beberapa orang laki laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki laki diantara jin, maka jin jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Al Jin : 6)
“Dan bahwasannya ada beberapa orang laki laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki laki diantara jin, maka jin jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Al Jin : 6)
Juga hadits yang merupakan do’a yang kita baca ketika
masuk WC (yang artinya) :
“Ya Allah aku berlindung kepada Mu dari jin yang laki laki dan yang perempuan”.
“Ya Allah aku berlindung kepada Mu dari jin yang laki laki dan yang perempuan”.
9.) Bangsa jin itu juga makan seperti kita, hanya saja
makanannya tidak sama dengan makanan kita dan adakalanya dia mencuri makanan
kita sebagaimana setan mencuri makanan zakat dari Abu Hurairah yang
diperintah oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjaganya.











